Tepatnya kini, aku seperti mengharap mati
bukankah memang hidup memang untuk mati?
bukankah yang diberikanNya akan kembali juga?

Kini permata hidupku telah pergi ditelan perut bumi
dan aku disini seperti orang bodoh yang menurut dengan kehendak hati yang pilu
tidakkah masuk akal, aku yang selalu mendambakannya
hanya bisa berharap dan tak diperbolehkan untuk melihatnya
meski hanya sesaat. . .

kini dia dapat beistirahat dengan tenang
tanpa jiwa yang selalu membayangnya
lepas tanpa rasa yang menyayatnya

Duhai sayang. . .
Tinggalah aku sendiri yang tersayat olehnya
oleh rasa yang aku tak tahu dari mana rasa itu
seakan menjadi penghuni abadi dalam hatiku

Wajah cantikmu mungkin telah hilang
termakan cacing-cacing tanah yang kelaparan
Jujur, aku lebih memilih untuk menjadi cacing itu
dan aku juga cemburu pada bumi yang memelukmu dengan kedamaian

Duhai sayang. . .
Dengarkan aku dan rasaku ini
aku sungguh merindukan akan api itu
“Lilin” ini takkan pernah padam sayang…
meski air seluruh dunia digunakan untuk menenggelamkannya

karena dia sudah abadi
abadi menyertai kepergianmu untuk selamanya. . .