TUHAN PADA SUATU SUBUH

Tuhan berjalan-jalan dari satu ayat ke ayat lain
Dari satu doa ke doa lain
Menyaksikan kita semua
Merubah kabut
Jadi cuaca

Demikian sepi
Akan menjelmakan puisi
Dan Tuhan tegak di sini
Memperhatikan kita semua
Assalamu’alaikum, ucapnya
Sambil menebarkan bunga-bunga surgawi
—————————————————-

SOLITUDE

Tiada lagi siul burung
semak, pohonan dan samar gunung
hari jadi murung dan ditiup
angin laut yang sayup

Demikianlah dinginnya sekarang danau
dan matahari musim hujan, serta bayangan
cemara dalam sisa lewat kemarau
tinggal beberapa daun hangus di puncak

Kita sekarang berjalan dan menatap
awan yang perlahan dan engkau
lebih kemelut
mengunyah hari dingin dan menyergap
air seperti es kecil-kecil, menyapu
menyapu dahimu

Sekarang tiada lagi siul burung
semak, pohonan dan samar gunung
dalam kabut. Dan engkau menatap
dua rindu yang dalam galau jiwa
aku diam, hari jadi murung, kemudian lewat
barisan gelisah dalam upacara tanpa nyanyian.
—————————————————-

SENJA SUSUT DAN WAJAHMU

Lewat jendela
Senja susut dalam ruang
Kau saksikan
Aku sendiri sayang
Dan wajah yang tenggelam dalam sangsai ini
Dan ketika kudengar gaung panjang
Bersahutan
Bersama bayang yang berhenti

Ketika itu pun
Kau di sana
Di muka jendela, tertegun
Dan mencari kerdip caya pada mataku
Serta sisa debu pada kakimu, perjalanan jauh
Yang kau tempuh
Alangkah gersangnya jalanan
Saat pun bulan dan gerimis bergetaran

Ketika itu aku tak tahu
Saat jam pun meloncat ke bumi
Dan malam yang berjejal pun
Menyapu wajahmu, menyapu kakimu
Menyapu bayangmu yang kelabu
Dan termangu pada sendat gerimis lalu.
—————————————————-

PRELUDE

I
Di atas laut. Bulan perak bergetar
suhu pun melompat
Di bandar kecil itu. Aku pun dapat
menerka. Seorang pelaut mengurusi jangkar

II
Siapakah bertolak bersama pelaut-pelaut itu?
angin senja dari benua. Sesekali suara sauh
Siapakah yang berseru bersama pelaut-pelaut itu?
langit yang biru, bisik-bisik. Sesekali bayang-bayang negeri jauh

III
Dua nelayan Madura terjun ke sampannya
angin tak menyuruh mereka, dingin yang baja
seperti kata nenek moyangnya, mereka lepaskan mantera
seperti kata nenek moyangnya, engkau hanya menawarkan angin utara

IV
Angin akan kembali dari bukit-bukit, menyongsong malam hari
atau yang tidur siang hari, yang kedengaran membetulkan kemarau
angin yang tahu, seperti engkau, ke mana arah musim ini mati
ke laut: membujuk-bujuk nelayan. Suara yang lirih sesekali.
—————————————————-

IBUNDA MARTIJAH

…….:kepada anaknya Abdul Hadi

Syukurlah malam. Bulan telah di puncak perbukitan
Kupetik tali kecapinya, dalam tembang megatruh
Yang perlahan, gelisah di badan
Menggetarkan diriku dalam sepi yang jauh

Kemudian tak ada lagi, suara laut dalam gelombang
Di sisimu pasir pantai, pelabuhan riuh dan air pasang
Kau tarik tali, kau bongkar sauh, kau lempar ke jauh
Bandar benua, badai, arus dan tentu rindumu teduh

Musim adalah camar ketika senja, duka
Pada layar, sebelum berangkat, sudah kutulis sajak
Seperti mimpi, kemudian kian tiada lagi, sisa jejak
Syukurlah, aku pun, ketika bulan memetik tali kecapinya
Pada malam, aku khayalkan semua ada
Agar kau dengar, nak. Langit harus kau bajak.
—————————————————-

DAN ANGIN DI LUAR JENDELA

lampu padam
malam mati
dan angin di luar jendela yang sayu pun terhenti
ruang yang berkemas kumandang hilang
lebih dingin, Tuhan
dan desakan langit dalam udara
dan kemarau yang berbagi sisa
padaku

pada bayangan mengecil
pada bayangan yang tak terdengar sentuhan
terbisik juga sajak dan ceritera
tapi tak tahu detik pun jam
bersama musim turun perlahan

Tuhan, sajak yang kini termangu, dingin abadi
terhenti sebelum jadi
di luar angin, di jendela dan bulan kian biru
pudar di atas bahuku

Tuhan, selamat malam
—————————————————-

SURAT ATAS HIDUP

Seriap darahmu menyambar api dan tarian ini harus dimulai
Larasmu ombak wirasamu karang dan guru lagumu badai
Bulan terang atas pelabuhan yang dulu tenang dan sangsai

Kapal, tapi ke benua manakah kau akan berlayar?

Yang mengirimmu musim panas di gurun
Ketika terik jadi kaktus
Ada tiktok jam yang tak pernah putus
Ada madu yang belum pernah kau kecup
Ada sungai
Hitam seperti darah dan merah seperti anggur
Sepucuk surat dari yang menunggu:
Hiasilah kehampaanmu dengan tawa!